Langsung ke konten utama

Postingan

Hari Ini

  Hai, Dimas. Apa kabar? Aku harap kamu baik. Gimana senja hari ini? Aku kepo ya? Maaf ya.   Aku mau cerita deh, Dim. Tiba-tiba aku kangen kamu. Iya, aku kangen kamu. Tiba-tiba banget, kan? Nggak ada hujan, nggak ada angin.   Bohong, deh. Aku bercanda . T adi sore hujan angin. Tapi untuk aku kangen kamu, aku nggak bercanda, Dim. Aku serius. Setelah hujan sore tadi, aku lihat pelangi dari jendela kamarku. Kamu tau apa? Pelanginya warna abu-abu! Hahaha! Lucu deh. Seakan Tuhan nggak punya tinta cadangan untuk mewarnai pelangi.   Jujur aku bingung banget. Kok bisa ya, Tuhan nggak kasih warna pelangi? Apa Tuhan lupa? Atau memang sengaja? Kenapa Tuhan kasih lihat aku pelangi abu-abu? Kenapa Tuhan nggak kasih lihat aku pelangi yang sama dengan apa yang kamu lihat disana? Kenapa harus abu-abu? Padahal kamu suka biru.   Oh iya, Dim, Ada yang lucu lagi loh. Kemarin aku cuci sepatuku. Sepatu hitam bergaris merah...
Postingan terbaru

Devilish Joy (2018)

  Pria Yang Menghapus Waktu Seorang pria berkata kepada gadis, “Halo, mau kuberi tahu rahasia yang telah lama kusimpan?” “Aku menafsirkan waktu secara berbeda dengan orang lain.” “Bagiku, setiap harinya seperti setahun, dan kematian berada disamping tempat tidurku tiap malamnya.” “Aku bekerja keras setiap harinya untuk memutar waktu. Tapi, aku sadar aku telah terikat dengan mantra yang tak bisa kurusak.” “Meski begitu, akankah kau tetap mencintaiku?”   Seorang gadis berkata pada pria, “Aku menyukaimu seadanya.” “Saat ini kau sudah tampak indah dimataku.”   Dan saat si gadis berkata seperti itu, pria itu tersenyum. - Devilish Joy 2018

Marhaban Yaa Ramadhan

Assalamualaikum, man-teman! Halo man-teman semua. Blue balik lagi niiih. Ini adalah tulisan blue yang pertama setelah sekian lama blue enggak nulis lagi. Karena terakhir blue nulis bulan Februari, dan sekarang udah Mei aja ya hehehe. Blue tau emang enggak bakal ada yg kangen sama tulisan blue yang  un-faedah. Jadiiiii...... Tujuan blue posting ini untuk mengucapkan, Selamat Menunaikan Ibadah Puasa 1440 Hijriah man-teman! Semoga Ramadhan tahun ini menjadi Ramadhan yg lebih baik dari tahun lalu. Semoga dari Ramadhan ini, menjadi jembatan kita semakin mendekatkan diri kepada Sang Khalik. Dan yang paling penting, semoga kita semua mendapat rahmat dan hidayah, juga petunjuk dari Allah SWT. And the last but not least,  semoga kita bisa bertemu Ramadhan selanjutnya dan berkumpul dengan orang-orang yg kita cintai. Aamiin Aamiin Yaa Rabbal Alamiin. Dihari pertama puasa ini siapa yg udah ngebayangin buka puasa pake apa? Makhruh loh kalo gitu. Apa lagi yg diem-diem buka kulkas trus m...

Tentang kisah yang tak pernah usai

“Terima kasih, ya kamu sudah menyempatkan diri untuk datang keacara pernikahan kami.” Ucap Diva, istri sahabat baikku, Dimas. “Tidak, aku yang terima kasih karena telah mengundangku.” Aku menyalami sang Puteri. “Dimana Dimas?” Lanjutku. “Dia bilang harus kekamar kecil sebentar.” Ucap Diva, kemudian menarikku untuk duduk dikursi pelaminan bersamanya.  “Intan, terima kasih karena telah melepaskan Dimas untukku.” Ucap Diva serius. “Aku tak pernah melepaskannya, Diva. Kau salah paham.” Sanggahku. “Aku tahu kau akan mengatakannya. Tapi aku akan tetap berterima kasih karena telah mengizinkanku memilikinya.” Lanjut Diva sambil menggenggam tanganku. Aku tersenyum dan membalas genggaman tangannya diatas tanganku. “Tak perlu berterima kasih padaku. itu memang sudah takdir kalian untuk bersama. Mungkin, Tuhan hanya mengizinkanku untuk hidup sebagai sahabatnya, bukan teman hidupnya.” Jelasku menerawang. “Apa kau pernah menyukainya?” Tanya Diva tiba-tiba. Aku tersenyum sebe...

Sepucuk Surat

“Surat!” Teriak seorang tukang pos dari luar. Dengan tak sabar, ku hampiri tukang pos itu dengan berlari. “Ada surat, Pak?” Tanyaku semangat. “Iya, Neng.” Jawab pak pos dengan ramah. “Ini.” Ucapnya mengangsurkan sebuah amplop berwarna putih. “Terima kasih, Pak.” Dengan tak sabar, aku menerimanya dan berlari kedalam untuk membacanya. Aku duduk diatas ranjang kayuku dengan amplop surat itu dipelukanku. Sebelum membacanya, kubaui aroma khas Mas Burhan, orang yang menulis surat ini. Orang yang kepulangannya selalu kunanti. Rasa bahagiaku semakin memuncak saat kubuka amplop surat itu dan menemukan sapu tangan biru yang selalu dikirim Mas Burhan tiap kali ia mengirim surat. Aku suka aroma ini. Lalu kubuka lembar surat itu dan terlihatlah tulisan tangan yang rapi. Tulisan yang membuatku semakin merindukannya setiap kali membacanya. “Assalamu’alaikum, Dek.” Memang hanya tulisan tangannya, tapi aku dapat mendengar suaranya dengan jelas dikepalaku. “Dek, apa kabarmu di Jepara? Ma...

Senja

SENJA Selamat sore, Senja Tidak, aku hanya menyapa Aku tak akan lama Hanya saja, sudah cukup lama kita tak bersua. Apa kabarmu, Senja? Aku harap kau baik-baik saja Aku? Tentu saja aku baik Sangat baik. Bahkan lebih baik setelah kita berpisah Aku marah? Tidak. Aku tak bisa marah padamu Justru, aku ingin berterima kasih padamu Karena kau telah mengajarkanku, tentang cinta pertama yang tak mungkin berhasil. Terimakasih, Senja Setidaknya, kini aku sadar Cinta pertamaku tak jatuh pada orang yang salah Kau sangat tepat Bahkan saat kau putuskan untuk pergi Aku tahu, adalah kesalahanku yang memaksamu untuk tetap tinggal Aku sungguh egois, bukan? Atau sebenarnya, kau yang lebih dulu menyerah? Aku tak tahu siapa yang lebih dulu pergi Tapi sepertinya, aku yang lebih dulu menjauh Atau, kau yang lebih dulu menghilang? Entahlah, aku tak mengingatnya. Kau tahu, bukan. Aku selalu payah dalam hal mengingat Tapi satu hal yang pasti kuingat Dulu, aku sangat mencintaimu T...

Permata Jiwa

Bissmillahirrahmanirrahiim... Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatu, sahabat semua. Ini adalah postingan pertamaku. Aku ingin bercerita tentang permata yang sangat berharga. Sejujurnya, aku bukanlah wanita baik. Aku tak taat dalam beribadah. Aku sangat jauh dari kata sholehah. Aku selalu dekat dengan maksiat, aku selalu meninggalkan kewajibanku sebagai seorang muslim, aku tak pernah mena'ati apa yang Allah tetapkan untukku. Selalu saja ada alasan untuk menghindarinya. Dan selalu saja tak ada penyesalan setelahnya. Sampai menginjak SMA, aku belum juga berubah. Aku masih pada tabiat burukku. Bahkan, tak pernah terlintas untuk merubah hiduplu. Sampai pada akhirnya, Allah mengetuk pintu hatiku dengan mendatangkan orang-orang yang sholeh. Merekalah permata yang aku maksud. Mereka senantiasa membimbingku kejalan yang Allah ridhoi. Jalan yang sepanjang jalannya, terbentang rahmat Allah yang amat melimpah. Bersama mereka, aku merasa semakin kecil. Aku menyadari bahwa aku sungguh ta...