Langsung ke konten utama

Sepucuk Surat


“Surat!”
Teriak seorang tukang pos dari luar. Dengan tak sabar, ku hampiri tukang pos itu dengan berlari.

“Ada surat, Pak?” Tanyaku semangat.

“Iya, Neng.” Jawab pak pos dengan ramah. “Ini.” Ucapnya mengangsurkan sebuah amplop berwarna putih.

“Terima kasih, Pak.”
Dengan tak sabar, aku menerimanya dan berlari kedalam untuk membacanya.

Aku duduk diatas ranjang kayuku dengan amplop surat itu dipelukanku. Sebelum membacanya, kubaui aroma khas Mas Burhan, orang yang menulis surat ini. Orang yang kepulangannya selalu kunanti. Rasa bahagiaku semakin memuncak saat kubuka amplop surat itu dan menemukan sapu tangan biru yang selalu dikirim Mas Burhan tiap kali ia mengirim surat. Aku suka aroma ini. Lalu kubuka lembar surat itu dan terlihatlah tulisan tangan yang rapi. Tulisan yang membuatku semakin merindukannya setiap kali membacanya.

“Assalamu’alaikum, Dek.”
Memang hanya tulisan tangannya, tapi aku dapat mendengar suaranya dengan jelas dikepalaku.

“Dek, apa kabarmu di Jepara? Mas Burhan harap kamu sehat selalu.”
Aku mengangguk dan tersenyum.

“Kamu tahu ndak, Dek? Alhamdulillah Mas sudah punya cukup uang untuk melamarmu.”
Senyumku semakin merekah.

Ndak sabar Mas pulang dan segera melamarmu, Dek.”

“Disini, Mas selalu terbayang wajah Adek yang manis.”

“Mas sangat rindukan Adek Ratna yang sangat Mas sayangi.”

“Tapi, Dek. Sepertinya semua ndak akan terjadi.”

“Mas ndak mungkin bisa melamar Adek. Sampai kapanpun Mas ndak akan pernah bisa. Sekeras apapun Mas berusaha, Mas ndak akan bisa melamarmu.”

Keningku berkerut bingung.

Ndak, Dek. Bukan maksud Mas ndak cinta lagi sama Adek. Percayalah, Dek. Hanya Adek satu cintaku.”

“Tapi, Dek. Kalau kamu membaca surat ini, itu artinya Mas ndak akan bisa pulang melamarmu. Karena Mas memang ndak bisa.”

Aku semakin bingung.

“Mas harap kamu bisa menemukan pengganti Mas ya, Dek. Mas sayang sekali sama Adek.”

“Selamat tinggal, Dek. Mas tunggu kamu ditempat Mas yang baru.”
Tak sadar, air mataku mengalir begitu saja.

“Wassalamu’alaikum. Salam cinta, Mas Burhanmu.”

Aku tak mengerti dengan isi surat yang ditulis Mas Burhan. Aku tak paham. Sampai akhirnya pintu kamarku diketuk tak beraturan.

Nduk, kamu wes ndeleng berito nang tivi?” Ucap Ambu gusar setelah aku membuka pintu.

Belum, Ambu. Memang ono opo?” Tanyaku bingung.

“Sudah cepat tonton beritanya.” Perintah Ambu.

Dengan bingung kuraih remot TV dikamarku dan menyalakannya sesuai dengan perintah Ambu. Setelah layar hitam menghilang sempurna, seorang pembawa acara perempuan memberitakan jika pasukan perdamaian milik Indonesia yang dikirim ke Timur Tengah mendapat serangan bom dari pihak teroris. Setelahnya, muncul nama-nama prajurit yang menjadi korban. Dan dari sana aku mengerti. Aku paham mengapa Mas Burhan mengatakan seperti itu padaku dalam surat. Mas Burhan tak bohong. Ia memang tak bisa melamarku. Karena namanya terlihat jelas dalam daftar korban meninggal diurutan tujuh.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tentang kisah yang tak pernah usai

“Terima kasih, ya kamu sudah menyempatkan diri untuk datang keacara pernikahan kami.” Ucap Diva, istri sahabat baikku, Dimas. “Tidak, aku yang terima kasih karena telah mengundangku.” Aku menyalami sang Puteri. “Dimana Dimas?” Lanjutku. “Dia bilang harus kekamar kecil sebentar.” Ucap Diva, kemudian menarikku untuk duduk dikursi pelaminan bersamanya.  “Intan, terima kasih karena telah melepaskan Dimas untukku.” Ucap Diva serius. “Aku tak pernah melepaskannya, Diva. Kau salah paham.” Sanggahku. “Aku tahu kau akan mengatakannya. Tapi aku akan tetap berterima kasih karena telah mengizinkanku memilikinya.” Lanjut Diva sambil menggenggam tanganku. Aku tersenyum dan membalas genggaman tangannya diatas tanganku. “Tak perlu berterima kasih padaku. itu memang sudah takdir kalian untuk bersama. Mungkin, Tuhan hanya mengizinkanku untuk hidup sebagai sahabatnya, bukan teman hidupnya.” Jelasku menerawang. “Apa kau pernah menyukainya?” Tanya Diva tiba-tiba. Aku tersenyum sebe...

Devilish Joy (2018)

  Pria Yang Menghapus Waktu Seorang pria berkata kepada gadis, “Halo, mau kuberi tahu rahasia yang telah lama kusimpan?” “Aku menafsirkan waktu secara berbeda dengan orang lain.” “Bagiku, setiap harinya seperti setahun, dan kematian berada disamping tempat tidurku tiap malamnya.” “Aku bekerja keras setiap harinya untuk memutar waktu. Tapi, aku sadar aku telah terikat dengan mantra yang tak bisa kurusak.” “Meski begitu, akankah kau tetap mencintaiku?”   Seorang gadis berkata pada pria, “Aku menyukaimu seadanya.” “Saat ini kau sudah tampak indah dimataku.”   Dan saat si gadis berkata seperti itu, pria itu tersenyum. - Devilish Joy 2018

Marhaban Yaa Ramadhan

Assalamualaikum, man-teman! Halo man-teman semua. Blue balik lagi niiih. Ini adalah tulisan blue yang pertama setelah sekian lama blue enggak nulis lagi. Karena terakhir blue nulis bulan Februari, dan sekarang udah Mei aja ya hehehe. Blue tau emang enggak bakal ada yg kangen sama tulisan blue yang  un-faedah. Jadiiiii...... Tujuan blue posting ini untuk mengucapkan, Selamat Menunaikan Ibadah Puasa 1440 Hijriah man-teman! Semoga Ramadhan tahun ini menjadi Ramadhan yg lebih baik dari tahun lalu. Semoga dari Ramadhan ini, menjadi jembatan kita semakin mendekatkan diri kepada Sang Khalik. Dan yang paling penting, semoga kita semua mendapat rahmat dan hidayah, juga petunjuk dari Allah SWT. And the last but not least,  semoga kita bisa bertemu Ramadhan selanjutnya dan berkumpul dengan orang-orang yg kita cintai. Aamiin Aamiin Yaa Rabbal Alamiin. Dihari pertama puasa ini siapa yg udah ngebayangin buka puasa pake apa? Makhruh loh kalo gitu. Apa lagi yg diem-diem buka kulkas trus m...