
“Surat!”
Teriak seorang tukang pos dari luar. Dengan tak sabar, ku hampiri tukang pos itu dengan berlari.
“Ada surat, Pak?” Tanyaku semangat.
“Iya, Neng.” Jawab pak pos dengan ramah. “Ini.” Ucapnya mengangsurkan sebuah amplop berwarna putih.
“Terima kasih, Pak.”
Dengan tak sabar, aku menerimanya dan berlari kedalam untuk membacanya.
Aku duduk diatas ranjang kayuku dengan amplop surat itu dipelukanku. Sebelum membacanya, kubaui aroma khas Mas Burhan, orang yang menulis surat ini. Orang yang kepulangannya selalu kunanti. Rasa bahagiaku semakin memuncak saat kubuka amplop surat itu dan menemukan sapu tangan biru yang selalu dikirim Mas Burhan tiap kali ia mengirim surat. Aku suka aroma ini. Lalu kubuka lembar surat itu dan terlihatlah tulisan tangan yang rapi. Tulisan yang membuatku semakin merindukannya setiap kali membacanya.
“Assalamu’alaikum, Dek.”
Memang hanya tulisan tangannya, tapi aku dapat mendengar suaranya dengan jelas dikepalaku.
“Dek, apa kabarmu di Jepara? Mas Burhan harap kamu sehat selalu.”
Aku mengangguk dan tersenyum.
“Kamu tahu ndak, Dek? Alhamdulillah Mas sudah punya cukup uang untuk melamarmu.”
Senyumku semakin merekah.
“Ndak sabar Mas pulang dan segera melamarmu, Dek.”
“Disini, Mas selalu terbayang wajah Adek yang manis.”
“Mas sangat rindukan Adek Ratna yang sangat Mas sayangi.”
“Tapi, Dek. Sepertinya semua ndak akan terjadi.”
“Mas ndak mungkin bisa melamar Adek. Sampai kapanpun Mas ndak akan pernah bisa. Sekeras apapun Mas berusaha, Mas ndak akan bisa melamarmu.”
Keningku berkerut bingung.
“Ndak, Dek. Bukan maksud Mas ndak cinta lagi sama Adek. Percayalah, Dek. Hanya Adek satu cintaku.”
“Tapi, Dek. Kalau kamu membaca surat ini, itu artinya Mas ndak akan bisa pulang melamarmu. Karena Mas memang ndak bisa.”
Aku semakin bingung.
“Mas harap kamu bisa menemukan pengganti Mas ya, Dek. Mas sayang sekali sama Adek.”
“Selamat tinggal, Dek. Mas tunggu kamu ditempat Mas yang baru.”
Tak sadar, air mataku mengalir begitu saja.
“Wassalamu’alaikum. Salam cinta, Mas Burhanmu.”
Aku tak mengerti dengan isi surat yang ditulis Mas Burhan. Aku tak paham. Sampai akhirnya pintu kamarku diketuk tak beraturan.
“Nduk, kamu wes ndeleng berito nang tivi?” Ucap Ambu gusar setelah aku membuka pintu.
“Belum, Ambu. Memang ono opo?” Tanyaku bingung.
“Sudah cepat tonton beritanya.” Perintah Ambu.
Dengan bingung kuraih remot TV dikamarku dan menyalakannya sesuai dengan perintah Ambu. Setelah layar hitam menghilang sempurna, seorang pembawa acara perempuan memberitakan jika pasukan perdamaian milik Indonesia yang dikirim ke Timur Tengah mendapat serangan bom dari pihak teroris. Setelahnya, muncul nama-nama prajurit yang menjadi korban. Dan dari sana aku mengerti. Aku paham mengapa Mas Burhan mengatakan seperti itu padaku dalam surat. Mas Burhan tak bohong. Ia memang tak bisa melamarku. Karena namanya terlihat jelas dalam daftar korban meninggal diurutan tujuh.
Komentar
Posting Komentar
Bisik-bisik, yuk!