“Terima kasih, ya kamu sudah menyempatkan diri untuk datang keacara pernikahan kami.” Ucap Diva, istri sahabat baikku, Dimas.
“Tidak, aku yang terima kasih karena telah mengundangku.” Aku menyalami sang Puteri. “Dimana Dimas?” Lanjutku.
“Dia bilang harus kekamar kecil sebentar.” Ucap Diva, kemudian menarikku untuk duduk dikursi pelaminan bersamanya. “Intan, terima kasih karena telah melepaskan Dimas untukku.” Ucap Diva serius.
“Aku tak pernah melepaskannya, Diva. Kau salah paham.” Sanggahku.
“Aku tahu kau akan mengatakannya. Tapi aku akan tetap berterima kasih karena telah mengizinkanku memilikinya.” Lanjut Diva sambil menggenggam tanganku.
Aku tersenyum dan membalas genggaman tangannya diatas tanganku. “Tak perlu berterima kasih padaku. itu memang sudah takdir kalian untuk bersama. Mungkin, Tuhan hanya mengizinkanku untuk hidup sebagai sahabatnya, bukan teman hidupnya.” Jelasku menerawang.
“Apa kau pernah menyukainya?” Tanya Diva tiba-tiba.
Aku tersenyum sebelum menjawab, kemudian mempererat genggaman tanganku pada tangan Diva. “Aku tak pernah menyukainya. Tapi Dimas, dia selalu bisa membuatku jatuh cinta setiap saat.” Ucaku dengan tersenyum.
“Maksudmu?” Diva mengeryitkan dahinya.
“Ya. Dengan menikahimu hari ini, membuat aku percaya jika ia sungguh mencintaiku.” Ucapku sambil menatap pria yang berdiri diseberang sana, dengan baju pangerannya.
Aku menatapnya dengan tersenyum, begitupun dia. Ia juga menatapku dengan senyum. Ia menatapku, bahkan saat wanita yang ia nikahi hari ini menutuskan untuk pergi dan merusak acara pernikahan ini.
-Selesai-

unch
BalasHapusUnch juga
HapusNgisi blog makanan fong min
BalasHapus