Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2018

Sepucuk Surat

“Surat!” Teriak seorang tukang pos dari luar. Dengan tak sabar, ku hampiri tukang pos itu dengan berlari. “Ada surat, Pak?” Tanyaku semangat. “Iya, Neng.” Jawab pak pos dengan ramah. “Ini.” Ucapnya mengangsurkan sebuah amplop berwarna putih. “Terima kasih, Pak.” Dengan tak sabar, aku menerimanya dan berlari kedalam untuk membacanya. Aku duduk diatas ranjang kayuku dengan amplop surat itu dipelukanku. Sebelum membacanya, kubaui aroma khas Mas Burhan, orang yang menulis surat ini. Orang yang kepulangannya selalu kunanti. Rasa bahagiaku semakin memuncak saat kubuka amplop surat itu dan menemukan sapu tangan biru yang selalu dikirim Mas Burhan tiap kali ia mengirim surat. Aku suka aroma ini. Lalu kubuka lembar surat itu dan terlihatlah tulisan tangan yang rapi. Tulisan yang membuatku semakin merindukannya setiap kali membacanya. “Assalamu’alaikum, Dek.” Memang hanya tulisan tangannya, tapi aku dapat mendengar suaranya dengan jelas dikepalaku. “Dek, apa kabarmu di Jepara? Ma...

Senja

SENJA Selamat sore, Senja Tidak, aku hanya menyapa Aku tak akan lama Hanya saja, sudah cukup lama kita tak bersua. Apa kabarmu, Senja? Aku harap kau baik-baik saja Aku? Tentu saja aku baik Sangat baik. Bahkan lebih baik setelah kita berpisah Aku marah? Tidak. Aku tak bisa marah padamu Justru, aku ingin berterima kasih padamu Karena kau telah mengajarkanku, tentang cinta pertama yang tak mungkin berhasil. Terimakasih, Senja Setidaknya, kini aku sadar Cinta pertamaku tak jatuh pada orang yang salah Kau sangat tepat Bahkan saat kau putuskan untuk pergi Aku tahu, adalah kesalahanku yang memaksamu untuk tetap tinggal Aku sungguh egois, bukan? Atau sebenarnya, kau yang lebih dulu menyerah? Aku tak tahu siapa yang lebih dulu pergi Tapi sepertinya, aku yang lebih dulu menjauh Atau, kau yang lebih dulu menghilang? Entahlah, aku tak mengingatnya. Kau tahu, bukan. Aku selalu payah dalam hal mengingat Tapi satu hal yang pasti kuingat Dulu, aku sangat mencintaimu T...

Permata Jiwa

Bissmillahirrahmanirrahiim... Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatu, sahabat semua. Ini adalah postingan pertamaku. Aku ingin bercerita tentang permata yang sangat berharga. Sejujurnya, aku bukanlah wanita baik. Aku tak taat dalam beribadah. Aku sangat jauh dari kata sholehah. Aku selalu dekat dengan maksiat, aku selalu meninggalkan kewajibanku sebagai seorang muslim, aku tak pernah mena'ati apa yang Allah tetapkan untukku. Selalu saja ada alasan untuk menghindarinya. Dan selalu saja tak ada penyesalan setelahnya. Sampai menginjak SMA, aku belum juga berubah. Aku masih pada tabiat burukku. Bahkan, tak pernah terlintas untuk merubah hiduplu. Sampai pada akhirnya, Allah mengetuk pintu hatiku dengan mendatangkan orang-orang yang sholeh. Merekalah permata yang aku maksud. Mereka senantiasa membimbingku kejalan yang Allah ridhoi. Jalan yang sepanjang jalannya, terbentang rahmat Allah yang amat melimpah. Bersama mereka, aku merasa semakin kecil. Aku menyadari bahwa aku sungguh ta...