“Surat!” Teriak seorang tukang pos dari luar. Dengan tak sabar, ku hampiri tukang pos itu dengan berlari. “Ada surat, Pak?” Tanyaku semangat. “Iya, Neng.” Jawab pak pos dengan ramah. “Ini.” Ucapnya mengangsurkan sebuah amplop berwarna putih. “Terima kasih, Pak.” Dengan tak sabar, aku menerimanya dan berlari kedalam untuk membacanya. Aku duduk diatas ranjang kayuku dengan amplop surat itu dipelukanku. Sebelum membacanya, kubaui aroma khas Mas Burhan, orang yang menulis surat ini. Orang yang kepulangannya selalu kunanti. Rasa bahagiaku semakin memuncak saat kubuka amplop surat itu dan menemukan sapu tangan biru yang selalu dikirim Mas Burhan tiap kali ia mengirim surat. Aku suka aroma ini. Lalu kubuka lembar surat itu dan terlihatlah tulisan tangan yang rapi. Tulisan yang membuatku semakin merindukannya setiap kali membacanya. “Assalamu’alaikum, Dek.” Memang hanya tulisan tangannya, tapi aku dapat mendengar suaranya dengan jelas dikepalaku. “Dek, apa kabarmu di Jepara? Ma...
Everyone have the same chance to dream. Don't let someone's dreams trapped you. You have to build your own dreams. If you can't say it loud, just write it down, and then let the world do it's part.